Daftar Blog Saya

Senin, 23 Oktober 2017

AKU INGIN SEKOLAH (Efisode 2)

Nah..teman-teman..setelah aku lulus dari sekolah MI NW Azzuhriah Kebun Erat, aku bingung mau melanjutkan kemana ?. pada saat itu, ayahku melarang aku untuk melanjutkan sekolah, kata ayahku “sekolah itu tidak ada gunanya , sekolah tidak menghasilkan uang”. Aku terkejut medengar  kata-kata ayahku.

Aku sadar, orang tuaku berkata seperti itu karena orang tuaku tidak mempunyai uang untuk membiayai sekolahku. Dari sana Ayahku tidak pernah mendukung aku untuk bersekolah. Tetapi yang sejujurnya “ aku ingin sekoah” seperti teman-teman yang lainnya. Aku memang anak yang cengeng, aku menangis karena tidak di kasih melanjutkan sekolah.
Kebetulan pada saat itu, di desa Rekat Lauk, baru membuka sekolah SMP Islam Al-Hasanah Rekat Lauk, dan kepala sekolahnya adalah adik ibuku sendiri, aku sangat berharap sekali masuk sekolah yang baru di buka itu. Ketika itu Bapak kepala sekolah datang kerumahku dan berbincang-bincang dengan kedua orang tuaku. “Pak Buk, kita sekolahkan saja anak kita di sekolah kita yang berada di Rekat Lauk..! Tanya Bapak Kepala Sekolah. Ayah saya menjawab, “buat apa sekolah ? “menghabiskan uang saja”. Merusak-rusak buku saja”. “tidak ada uang juga buat beli seragam, buku bolpoin dan perlengkapan yang lainnya”. Tidak usah sudah Salam sekolah”. Mendengar kata-kata ayahku, tiba-tiba air mataku berjatuhan.
          Pada saat itu, aku putus asa. Aku pergi dari rumah menghilang selama dua hari tidak pulang-pulang. Aku mencoba kasih sayang mereka sampai dimana.. ia, mereka tidak memperdulikanku, mereka tidak sayang sama aku, mereka tidak peduli sama aku. “Ya Allah aku ingin sekali sekolah seperti teman-temanku, setiap pagi memakai seragam sekolah, membawa tas, buku dan lain-lainnya’’. Melihat teman-teman berangkat sekolah setiap pagi, aku semakin ingin sekali bersekolah. Dari sana aku berubah pikiran. Dalam hatiku “em em em.. aku harus bekerja biar mendapat uang untuk membeli seragam sekolah, aku harus sekolah demi mengejar cita-citaku’’. Aku di ajak bekerja oleh pamanku sebagai buruh pasir di ladang yang sekarang ladang itu semula ladang pasir  sekarang menjadi tempat pariwisata “Lembah Naga Biru”.
          Allah memang maha mengetahui, pengasih dan penyayang. Allah telah mendengar kata hatiku. Selama dua minggu bekerja, aku sudah di gaji oleh pamanku, ya cukup lumayan. Semula niatku uang hasil keringatku sendiri aku pakai untuk membeli seragam sekolah. Belum aku membeli seragam sekolah. Bapak Kepala Sekolah datang lagi kerumah dan membawa satu seragam dan satu celana untuk di berikan kepadaku, dalam shalatku, Alhamdulillah ya allah, Terima kasih ya Allah, sekarang aku bisa bersekolah lagi, aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini”.
          Teman-teman.. kalian tahu tidak, seragam sekolah yang di kasih oleh bapak kepala sekolah itu tidak serasi atas bawah. Coba teman-teman bayangkan, bajunya pramuka dan celananya warna biru. Tapi Alhamdulillah, aku tetap bersyukur, yang penting aku bisa bersekolah. Aku punya baju dan celana dan uang hasil keringatku itu aku pakai buat membeli sepatu baru. Nah .! sekarang aku siap untuk bersekolah.
          Hari pertama aku masuk sekolah, aku merasa sedikit minder sama teman-temanku, karna seragam ku tampil beda dengan seragam teman-temanku, mereka mengejekku, “ha-ha-ha lihat teman-teman, seragam Salam senin kamis”. Aku sangat malu sekali, di dalam hatiku “tidak apa-apa mereka mengejekku, suatu saat kamu pasti lebih dari aku pada saat ini”. Teman-teman, aku sudah hampir dua minggu ketinggalan mata pelajaran, aku berusaha mengejar ketertinggalanku, “Maimunah, boleh aku pinjam buku catatan mu tidak…?. “Oh, ini bukunya, tapi besok di kembalikan ya..!. “ia Mae, trimakasih ya..?. “ia sama-sama”. Untuk mengejar ketertinggalanku aku meminjam buku teman ku. Biasanya tulisan cewek itu bagus.
          Teman-teman, sekolahku itu tidak sebagus dengan sekolah yang berada di kota. Sekolahku sederhana dan kumuh. Coba bayangkan. Temboknya itu dari bata-bata merah yang belum di warnai dan lantainya Cuma tanah-tanah saja, terus gentingnya dari daun-daun pohon kelapa, tidak jauh beda dengan cerita flim “Laskar Pelangi itu”. Kalau hujan datang, terpaksa kami di pindahkan ke ruang madrasah MI disana, dan terkadang-kadang kami terpaksa di liburkan belajar oleh bapak ibu guru. Kami belajar dengan penuh apa adanya.
          Sekolah kami sering di cela-cela oleh anak-anak yang bersekolah di kota sebut saja Pancor. Setiap mereka berangkat dan pulang sekolah, mereka sering kali meneriaki sekolah kami ketika kami sedang asyik belajar. “haa..haa..haa, sekolah kandang ayam, kandang bebek.’’ Itulah kata-kata mereka. Kami yang sedang asyik belajar tidak peduli dengan kata-kata mereka. Guru kami terus menerus menyemangati kami belajar dan tidak cepat minder dengan kondisi sekolah. Kami sebagai siswa-siswi memang sudah menyadari dan memaklumi kata-kata mereka mencela sekolah kami. Sebenarnya kami bisa lebih dari mereka dalam memahami pelajaran, mereka bersekolah di kota sebenarnya sama saja dengan di desa, tergantung kita sendiri kalau kita mau sukses.
          Teman-teman ayahku sekarang membeli sapi lagi, dan aku tau apa kewajibanku terhadap sapi itu. Teman-teman pasti tau kan..?. ya.. pastinya memberikan makan dan minum. Biasanya sepulang sekolah aku pergi mencabit rumput di sawah. Sepulang dari sawah kita pergi main bola di lapangan sekolah di tempat aku sekolah, ketika sudah mau magrib, kami berhenti main bola dan cepat-cepat pulang, karena magribnya kita pergi mengaji di pesantren Bapak Kahfi Spd.i.
          Sepulang dari pesantren, saya biasanya belajar, kadang-kadang belajar, kadang-kadang nonton TV, dan yang terakhir tidur. “allahuakbar allahuakbar..” suara azan subuh berkumandang. Segera ku ambil air wudhu dan di lanjutkan sholat subuh berjamaah di masjid. Ketika sinar matahari pagi muncul, saya dan kakak saya pergi mandi di telaga wakaf, setelah itu sarapan dan siap pergi ke sekolah.
          Melihat aku pergi sekolah dengan semangat pagi membara, orang tuaku sedikit terbuka hatinya melihatku bersekolah. Dan teman-teman, pada saat itu, orang tuaku pernah berkata padaku, “ Salam, nanti kalau kamu dapat rangking satu di sekolah… bapak akan mebelikan kamu sepeda motor.’’. hampir pada saat itu aku tidak percaya dengan kata-kata ayahku. Dari sana aku semakin semangat lagi untuk belajar. Aku mau membuktikan kalau aku bisa bersaing dengan teman-temanku. Dan pada saat kenaikan kelas tiga SMP, hasilku tidak memuaskan orang tuaku. Pada kenaikan tingkat aku bukan peringkat satu tapi peringkat kedua. Aku sadar dalam dunia pendidikan itu terkadang kita bisa di atas dan kadang-kadang di bawah.
          Pada saat itu aku tidak berharap akan di belikan sepeda motor sama orangtuaku, tapi aku tidak peduli dengan itu, aku hanya ingin mereka tidak lemah menyekolahkanku. Tapi teman-teman, aku tidak sempat kepikiran kenapa orang tuakku mau menjual sapi itu lagi. Tak lama kemudian pas sepulang sekolah, “Na..na..na..woissss apa ini yang di tutup pakai selimut..?. setelah ku buka tutupnya ternyata sepeda motor Vega ZR warna merah yang sesuai dengan warna kesukaanku, “  .’’pak buk, siapa punya motor ni..?. ibuku menjawab “motor kita lahh.’’. wahhh seneng sekali rasanya punya motor baru.
hadiah yang di berikan membuat aku semakin semangat belajar, dan semangat belajar mengendarai sepeda motor, “wuuhh kren abis nih motor.” Setiap pulang sekolah aku pergi belajar mengendarai sepeda motor bersama kakak ku.
Hari demi hari selama satu minggu aku belajar sepeda motor sampai bisa. Bukan aku saja yang memakai sepeda motor itu melainkan kakakku juga, motor itu juga di pakai sekolah sama kakakku setiap hari, dan kami harus bisa sportif dalam berbagi memakai sepeda motor tersebut, agar tidak ada pertengkaran di antara kami.
          Lima  minggu sebelum ujian nasional di  laksanakan, seperti biasa, bapak dan ibuguru menambah jam belajar kami, yaitu mengadakan Les, kami belajar menjawab kisi-kisi ujian nasioanal dan belajar membuat lingkaran hitam di lingkaran kertas jawaban. Selain itu pelajaran yang sudah di pelajari di ulang-ulangi lagi pada waktu Les berlangsung.
          Temen-temen, ketika ujian nasionalnya sudah dekat, ternyata nasib kami sama seperti pada waktu di MI NW Kebun Erat, “ujian nasionalnya tidak di adakan di sekolah kami melainkan di SMPN 2 Selong. Maklumlah sekolah katanya belum terakkriditasi, tidak apa-apa, Lumayan anak kampung pergi ujian nasional di kota Selong.
          Ketika tinggal dua hari lagi mau ujian nasional, cobaan lagi menimpaku, aku di uji sama Allah, mungkin Allah menguji kesabaranku. Ujian itu adalah Masalah Keluarga. Pada saat itu kedua orang tuaku hampir mau berpisah yang penyebabnya sungguh ku tak tahu. Ibu Bapakku bertengkar setiap hari, sedangkan aku pada saat itu membutuhkan ketenangan dalam menghadapi ujian nasional. ‘’Ya Allah hanya kepadamu aku meminta dan hanya kepadamu aku memohon pertolongan.’’ Sungguh ku tak kuasa menahan cobaan ini Ya Allah, ampunilah Dosa Hambamu ini.’’
          Dengan hati yang sedih, aku berangkat ujian nasional, kami pergi ujian nasional ke Selong, setiap pagi kami di hantar pulang pergi sama sopir mobil keri yang sudah di boking oleh Bapak Kepala Sekolah. Di tambah lagi pada saat itu aku sedikit merasa minder sama teman-teman baik teman-teman di sekelas maupun teman-teman di SMPN 2 Selong. Minderku bukan karena merasa anak kampungan baju kusam atau apa, tapi yang ku malukan adalah pada saat itu  “jerawat ku banyak sekali.’’ Sudah kulit hitam, jerawatan lagi.”.
          Bila tidak teringat akan cita-citaku, mungkin aku sudah dari dulu berhenti sekolah, tetapi aku sudah berjanji pada diriku sendiri, aku akan mencoba berusaha mengejar cita-citaku walaupun sampai ke negeri china. Tampang bukan menjadi sebuah alasan untuk  tidak bersekolah. Maju terus tanpa mundur, “ayo teman-teman “ Gapailah cita-citamu setinggi langit.’’.
‘’Jangan jadikan pandangan mata ini seperti mata lalat
Yang hanya mencari sesuatu yang busuk dan buruk
Yakni hanya melihat keburukan dan kesalahan orang lain
Jadikanlah pandangan mata ini seperti mata lebah
Yang hanya memandang kewangian dan keindahan
Yakni memandang kebaikan orang lain
Sehingga melupakan keburukan orang lain.”


                                                         LULUS 


bersambung........