Daftar Blog Saya

Selasa, 10 Januari 2017

AKUNTANSI PEMBUBARAN FIRMA



AKUNTANSI PEMBUBARAN FIRMA

Pembubaran firma (the dissolution of partnersif) dapat diakibatkan oleh adanya kebangkrutan dalam usaha atau hal-hal lain yang akhiornya menjadi likuidasi firma.
Menurut the uniform of partnership Act(UPA), undang- undang persekutuan di amerika serikat , pasal 31 menyebutkan, terdapat beberapa faktor yang menyebabkan suatu firma di bubarkan yang pada intinya dapat di klasifikasikan sebagai berikut
1.      Sistem prekonomian mayarakat atau negara yang tidak mendukung lagi adanya kegiatan usaha, seperti adanya undang-undang pemerintah sistem monopoli oleh perusahaan-perusahaan besar lainnya dan sebagainya, yang semuanya itu tidak memungkinkan lagi suatu firma bertahan hidup.
2.      Adanya faktor-faktor ekstran yang berada di luar jangkauan menejemen perusahaan seperti bencana alam, kecelakaan,kebakakaran, dan sejenisnya yang semuanya tidak memungkinkan lagi suatu firma dapat mempertahankan hidupnya
3.      Adanya faktor-faktor intern di dalam firma, seperti adanya perselisihan anggota, kesalahan dalam menejmen, ketidak serasian dalam kerja dan sejenisnya kesemuanya itu tidak memungkinkan lagi suatu firma mempertahankan hidupnya.
Adapun tahapan akuntansi dalam pembubaran firma terdiri dari 2 tahapan
1.      Tahapan realisasi yaitu tahapan pelaksanaan penjualan aktifa-aktifa non kas menjadi kas (uang tunai) dan
2.      Tahapan likuidasi yaitu tahapan perlunasan kewajiban-kewajiban atau hutang firma dan di akhiri dengan pengambilan modal kepada para anggota firma
Untuk tahapan kedua diatas yaitu tahapan likuidasi dapat menggunakan 2 metode
1.      Likuidasi dilakukan secara serentak (lump sum likuidation)
2.      Likidasi dilakukan secara berangsur atau bertahap (instalment likuidation)
3.2.Akuntansi pembubaran firma dengan metode likudasi dilakukan secara serentak
Pembubaran firma dilakukan secara serentak di dahului dengan penjualan semua aktifa non kas sampai seluruh aktifa non kas tersebut dan barulah dilakukan pembagian kas dengan kata lain, bila likuidasi dilakukan secara serentak, pertama tama harus melalui tahap realisasi kemudian, setelah terkumpul barulah tahap likuidasi di lakukan. Terdapat beberapa tata aturan dalam likuidasiyaitu:
1.      Pada saat realisasi aktifa non kas menjadi kas, apabila terjadi perbedaan antara nilai buku aktifa non kas dengan nilai realisasi (harga jual) yang dapat mengakibatkan laba atau rugi realisasi, maka laba atau rugi realisasi tersebut harus dibagikan kepada para anggota firma sesuai dengan perbandingan laba rugi firma. Laba rugi tersebut kemudian dicatat kedalam saldo modal masing-masing anggota, kemudian saldo modal akhir para anggota akan digunakan sebagai dasar penyelesaian (likuidasi).
2.      Setelah realisasi aktifa non kas menjadi kas dan semua uang tunai sudah terkumpul, maka urutan-urutan (UPA pasal 40);
a.       Menyelesaikan hutang-hutang firma kepada pihak luar(kreditur ekstern)
b.      Menyelesaikan hutang-hutang firma kepada anggota firma(kreditur intern)
c.       Melakukan pengambilan modal kepada para anggota.
Contoh:
Berikut ini adlah neraca firma GHI pada tanggal 31 desember 19X1
Firma GHI
Neraca
Per 31 desember 19X1
Kas........................Rp. 10.000.000,00
Piutang dagang......Rp. 30.000.000,00
Persediaan..............Rp. 30.000.000,00
Aktifa tetap............Rp. 40.000.000,00



Jumlah aktifa         Rp. 110.000.000,00
Hutang dagang.....Rp. 15.000.000,00
Hutang bank.........Rp. 25.000.000,00
Hutang Tn G ........Rp. 10.000.000,00
Modal Tn G..........Rp .20.000.000,00
Modal Tn H..........Rp. 15.000.000,00
Modal Tn I...........Rp. 25.000.000,00

Jumlah pasifa......Rp. 110.000.000,00
Tn G , Tn H ,Tn I bersepakat membagi laba rugi dwengan perbandingan 30%:20%:50% . karena adanya krtidak cocokan mereka bersepakat untuk melikuidasi firmanya setelah tanggal 1 januari 19X2. Aktifa-aktifa non kas di realisasikan dengan rinciaan sebagai berikut.
1.      Persediaan berhasil dijual dengan Rp. 38.000.000,00
2.      Aktiva tetap berhasil dijual dengan harga Rp. 28.000.000,00
3.      Sedangkan piutang dagang dapat ditagih sebesar Rp. 27. 500.000,00
Berdasarkan contoh di atas , dapat dibuat jurnal sesuai dengan urutan-urutan likuidasi firma yang meliputi jurnal likuidasi yang tampak sebagai berikut





Realisasi Aktiva Non Kas
Keterangan
Jurnal realisasi
a.        Realisasi persediaan........................Rp. 38.000.000,00
Nilai buku persediaan .....................Rp. 30.000.000,00
Laba realisasi ..................................Rp.   8.000.000,00
Di bagikan kepada GHI dengan rasio 30%:20%:50%



b.      Realisasi aktiva
Tetap ..............................................Rp. 28.000.000,00
Nilai buku tetap...............................Rp. 40.000.000,00
Rugi realisasi .................................Rp. 12.000.000,00
Dibagikan kepada GHI dengan rasio 30%:20%:50%


c.       Realisasi piutang dagang ...............Rp. 27.500.000,00
Nilai buku piutang dagang ............Rp. 30.000.000,00
Rugi realisasi..................................Rp.   2.500.000,00
Di bagikan kepada GHI dengan rasio 30%:20%:50%
a.       Jurnal realisasi prsediaan
Kas................Rp. 38.000.000,00
                Persediaan....................Rp. 30.000.000,00
Modal G ......................Rp.   2.400.000,00
Modal H ......................Rp.   1.600.000,00
Modal I ........................Rp.  4.000.000,00

b.        Jurnal realisasi aktiva tetap
Kas... ............Rp. 28.000.000,00
Modal G .......Rp    3.600.000,00
Modal H........Rp.   2.400.000,00
Modal I..........Rp .  6.000.000,00
Aktivatetap..................Rp. 40.000.000,00

c.        Jurnal realisasi piutang dagang
Kas................Rp. 27.500.000,00
Modal G........Rp.      750.000,00
Modal H........Rp.      500.000,00
Modal I..........Rp.  1.250.000,00
Piutang dagang ...........Rp. 30.000.000,00
   
Setelah tahap realisasi aktiva non kas selesai, dihitung dahulu jumlah uang tunai yang ada, yaitu sebesar Rp. 10.000.000,00 ( kas yang ada di dalam nerca ) + Rp. 93.500.000,00( berasl dari realisasi non kas ) = 103. 500.000.
Selanjutnya uang kas sebesar Rp. 103.500.000,00 ini akan di distribusikan sesuai dengan tata urutan pembagian melalui tahap likuaidasi dengan jurnal sebagai berikut:
Keterangan
Jurnal likuidasi
a.       Menyelesaikan hutang kepada pihak luar berupa hutang dagang  Rp. 15.000.000,00
Dan hutang bank Rp. 25.000.000,00

b.       Uang kas yang ada Rp. I03.500.000,00
Perlunasan hutang Rp. 40.000.000,00
Sisa kas Rp. 63.500.000
Untukl membayar utang tn G sebesar Rp. 10.000.000,00 ( kreditur intern)

c.        Kas yang ada Rp. 63.500.000,00
Perlunasan hutang Tn G Rp. 10.000.000,00
Sisa kas Rp. 53.500.000,00 akan di bagikan kepada GHI sesuai dengan saldo modal akhirnya( lihat buku besar masing-masing anggota di bawah)
a.       Menyelesaikan atau melunasi hutang dagang non bank
Hutang dagang Rp. 15.000.000,00
Hutang bank Rp. 25.000.000,00
Kas Rp. 40.000.000,00

b.       Menyelesaikan ( melunasi hutang Tn G )
Rp. 10.000.000,00
Kas Rp. 10.000.000,00

c.        Pengembalian modal kepada para anggota :
Modal Tn.G Rp.18.050.000,00
Modal Tn. H Rp. 13.700.000,00
Modal Tn I Rp. 21.750.000,00
Kas Rp. 53.500.000,00

 Buku besar modal masing-masing anggota setelah adanya proses likuidasi firma dapat dilihat di bawah ini:
Modal Tn G
No
keterangan
Debit(Rp)
Kredit(Rp)
Saldo(Rp)
1.

2.
3.
4.
Saldo per 31 desember 19XI
Realisasi persediaan
Realisasi altiva tetap
Realisasi piutang dagang saldo akhir



3.600.000,00
   750.000,00
20.000.000,-

2.400.000,-
20.000.000,-
22.400.000,-
18.800.000,-
18.050.000,-
Modal Tn H
No
keterangan
Debit(Rp)
Kredit(Rp)
Saldo(Rp)
1.

2.
3.
4.
Saldo per 31 desember 19XI
Realisasi persediaan
Realisasi altiva tetap
Realisasi piutang dagang saldo akhir



2.400.000,00
   500.000,00
15.000.000,-

1.600.000,-
15.000.000,-
16.600.000,-
14.200.000,-
13.700.000,-
Modal Tn I
No
keterangan
Debit(Rp)
Kredit(Rp)
Saldo(Rp)
1.

2.
3.
4.
Saldo per 31 desember 19XI
Realisasi persediaan
Realisasi altiva tetap
Realisasi piutang dagang saldo akhir



6.000.000,00
1.250.000,00
25.000.000,-

4.000.000,-
25.000.000,-
29.000.000,-
23.000.000,-
21.750.000,-
Dalam pembubaran firma dengan menggunakan metode likuidasi srentak dapat timbul masalah dalam hal pengembalian modal kepada para anggota
a.       Ada anggota yang saldo modalnya depisit tetapi mampu membayar. Anggota yang modalnya depisit harus mengahpuskan depisitnya dengan cara membayar atau menyetorkan


B. Ada anggota saldo modal akhirnya depisit dan tidak mampu membayar
Apabila ada salah satu anggota firma stelah tahap realisasi saldo modalnya defisit, maka anggota tersebvut diwajibkan membayr atau menyetorkan sejumlah uang untuk mengahpus deifisit tersebut dan selanjutnya uang setorannya beserta sisa kas dan realisasi dibagikan kepada anggota yang tidak defisit.
Bagaiamana jika terjadi angggota yang defisit tersebut tidak mampu membayr sejumlah uang untuk mengahapus defisitnya tersebut.
Apbila terjadi hal demikian,  maka yang menanggung defisit tersebut adalah anggita yang tidak defisit dan dibebankan seuai dengan perbandingan laba-rugi dengan menggunakan contoh diatas, paabila ternyata tuan I yang mempunya salah modal akhir defisit sebesar Rp. 15000.000,- tidak mampu utnuk membayar uang untuk menutup defisit, maka defisit sebesar Rp. 1500.000,- milik tuan G, H masing – masing sebesar proporsi laba rugi.
Jurnal dan perhitungan utnuk mencatat pembebanan defisit tuan I adalah sb.
Jurnal untuk mencatat pembeabanan defisit tuan I kepada tuan G, dan H adalah:
Modal Tn. G..................Rp. 900.000
Modal Tn. H..................Rp. 600.000
            Modal Tn I ..................Rp. 1500.000
Perhitungan
Tn. G   : 30/50x 1500.000       = 900.000
Tn. H   : 20/50x 1500.000       = 600.000
                        Jumlah                         = 1500.000
Jadi jurnal yang harus dibuat untuk mencatat pengemabalian modal kepada para anggota adalah sebagai berikut :
Modal Tn. G..........................3200.000
Modal Tn. H..........................3800.000
Kas ...............................................7000.000
3.3. Pembubaran firma dengan metode likuidasi dilkukan SECARA berangsur
Kemp dan philp (1989) mengatakan bahwa metode likuidasi secara berangsur adalah suatu nmetode pembayaran likuidasi dengan cara berthap artinya setiap ada uang kas dari hasil realisasi aktiva non kas menjadi kas akan langsung pembayaan kepada anggota yang mempunyai saldo kredit modalnya.
Ada dua metode pembagian kas yang dapat digunakan dalam likuidasi yang dilakukan secara bertahap yaitu:
A.    Pembagian kas tanpa perogram kas
Ini maksudnya adlah perhitungan pembagian yang ada dari setiap tahap realisasi para anggota setelah pelunasan hutang-hutan firma.
Adapun prosedur yang harus dilakukan dalam pembagian kas tanpa program as adalah sebgai berikut :
a.       Mencatat realisasi aktiva yang berhasil dijual
b.      Membebankan laba tau rugi akibat akitva non kas kepada modal masing-masing anggota
c.       Melunasi hutang-hutang dengan mengguankan uang kas yang ada
d.      Apabila ada sebagian aktiva non kas yang belum berhasil di jual, maka dianggap suatu kerugian tersebut kepada para anggota
e.       Membagikan kas yang ada sebagai pengembalian modal kepada anggota-anggota yang mempuanyai rekening modal bersaldo kredit.
Contoh
Berikut ini adalah neraca Fa PQRS seblum likuidasi per 31 desember 19XI

Aktiva
Kas.............................Rp.  80.000.000
Piutang........................       20.000.000
Persediaan...................      200.000.000
Aktiva tetap................      700.000.000

Hutang dan modal
Hutang dagang.............Rp. 25.000.000
Hutang tn. P..................      75.000.000
Hutang tn. R..................      50.000.000
Hutang tn. Q..................    200.000.000
Modal p (30%)................    175.000.000
Modal q (20%).................   215.000.000
Modal s (325%)...............   260.000.000

Aktiva                            1000.000.000
Pasiva                                1000.000.000
Likuidasi firma dilakuka secara berangsur yang terdiri dari tahapan sebagai berikut:
Januari
-          Piutang berhasil ditagih sebesar RP. 15.000.000
Aktiva tetap yang harga pokoknua Rp. 250.000.000
Berhasil dijual seharga Rp. 275.000.000
            Maret
-          Persediaan yang harga pokoknya Rp. 180.000.000
Laku dijual seharaga Rp. 220.000.000
            Mei
-          Sisa persidaan yang belum tertagih dihapuskan
-          Piutan yang belum tertagih dihapuskan
-          Sisa aktiva tetap laku dijual seharaga Rp. 390.000.000
Berdasarkan contoh diatas dapat dibuat jurnal likuidasi fa. PQRA besrta perhitungan dengan menggunakan metode likuidasi berangsur sebagai berikut
1.      Likuidasi tahap 1 (bulan januari 19XI)
a.       Ralisasi piutang.....................................Rp. 15.000.000
Realisasi aktiva tetap............................     275.000.000
Jumlah aktiva tetap ...................................290.000.000
Laba realisasi aktiva tetap
Rp. 275.000.000 - 250.000.000 = 25.000.000 dibagikan kepada
Tn. P = 30% X Rp. 25.000.000 =  7.500.000
Tn. Q = 20% X Rp. 25.000.000 = 5.000.000
Tn. R = 25% X Rp. 25.000.000 = 6.250.000
Tn. S = 25% X Rp. 25.000.000 =  6.250.000
                  JUMLAH                 = 25.000.000
Jurnal realisasi tahap i
Kas                        Rp. 290.000.000
Piutang dagang                                               Rp.   15.000.000
Aktiva tetap                                                           250.000.000
Modal P                                                                     7.500.000
Modal Q                                                                      5.000.000
Modal R                                                                      6.250.000
Modal S                                                                      6.250.000
b.      Selanjutnya diadakan peluansan hutang-hutang firma dengan jurnal sebagai berikut
Hutang dagang                 Rp. 25.000.000
Hutan Tn P                                           75.000.000
Hutang Tn Q                            50.000.000
                  Kas                                                      Rp. 150.000.000
c.       Membebani aktiva non kas yagn belum terjual danggap sebagai kerugian dengan perhitngan sebagai berikut
Jumlah aktiva non kas yang ada               Rp.      920.000.000
Yang telah direalisasikan                                      260.000.000
Aktiva non kas yang belum terjal/ realisasi           655.000.000

d.      Membagikan kas yang ada kepad anggota yang rekening modalnya bersaldo kredit dengan perhitungan sebagai berikut
Jumlah Kas                                    Rp .       80.000.000
Kas dari reaslisasi                                      290.000.000

Kas yang tersedia pada tahap I                 370.000.000
Pelunasan firma                                         150.000.000
Sisa kas yang dibagikan hutang firma      220.000.000
Jurnal pembagian kas pada tahap i adalah
Modal tn p                        Rp.        11.000.000
Modal tn Q                         49.000.000
Modal tn R                          57.500.000
Modal tn S                                    102.500.000
      Kas                                                      Rp. 220.000.000

B.     Pembagian kas dengan program kas
Prosedur yang harus ditempuh untuk likuidasi beraangsur dengan mengguankan program kas ini adalah sebgai berikut
a.       Menghitung kempauan untuk menanggung rugi maksimum masing-masing anggita firma
b.      Menysun  urutan prioritas pembayaran kas kepada para anggota
c.       Membuat pogram pembayaran kas
d.      Melakasankana pembagian kas atau likuidasi sesuai dengan tata urutan yang berlaku dan program kas yang telah tersusun.
a.       Menghitung kemampuan untuk menanggung rugi maksimum (KMRM) masing – masing anggota .
Kemampuan untuk menanggung rugi maksimum masing –masing anggota dapat dihitung dengan cara menghitung jumlah kekayaan yang tertanam (investasi) dalam firma dibagi dengan rasio perbandingan laba-rugi . jumlah investasi dalam firma meliputi jumlah saldo modal di tambah piutang anggota (bila ada) dan dikurangi jumlah hutang anggota (bila ada).
            Tabel beikut ini akan memperlihatkan perhitungan kemampuan untuk menanggung rugi maksimum masing-masing anggota:
Keterangan
Modal Tn. Andi(Rp)
Modal Ny. Ari (Rp)
Modal Nn. Afni
Saldo modal


Jumlah investasi dibagi: rasio/ laba rugi.

Kemampuan untuk menanggung rugi maksimum
250.000.000,00

           -
250.000.000,00
         20%


1.250.000.000,00

300.000.000,00

             -
300.000.000,00
          40%


750.000.000,00

300.000.000,00
   50.000.000,00
350.000.000,00
         40%


875.000.000,00

b.      Menyusun urutan prioritas pembayaran kas kepada anggota
Prioritas pembayaran kas kepada anggota di buat berdasarkan hasil perhitungan kemampuan untuk menanggung rugi maksimum dengan urutan yang paling besar kapasitas sebagai prioritas pertama kemudian diikti oleh kapasitas kemampuan rugi maksimum yang berada di bawahnya .
Berdasarkan pada perhitungan kemampuan menanggung rugi maksimum diatas , maka urutan pembayaran kas dapat di susun sebagai berikut :
Nama anggota
Jumlah kemampuan menanggung rugi maksimum
Urutan prioritas
Tn.  andi
Ny. Ari
Nn. Afni
Rp. 1.250.000.000,00
Rp.    750.000.000,00
Rp.    875.000.000,00
            1
            3
            2


c.       Membuat program pembayaran kas
Program pembayaran kasdigunakan untuk menentukan berapa besar prioritas pembayaran yang akan di berikan kepada masing-masing anggota sesuai dengan urutan prioritas pembayaran.
Besarnya hak untuk menerima prioritas pembayaran terlebih dahulu milik seorang anggota tergantung pada kelebihan kemampuan menanggung rugi maksimum anggota tersebut di atas anggota yang lain. Dalam hal ini penentuan besarnya prioritas pembayaran kas dihitung dengan cara rasio pembagian laba rugi anggota tersebut di kalikan kelebihan kemampuan menanggung rugi maksimum milknya di atas anggota yang lain yang ada pada prioritas ke 2 dan seterusnya.

d.melaksanakan pembagian kas dengan program kas
pembagian kas di awali dengan melakukan realisasi aktiva non kas menjadi kas, kemudian barulah di adakan likuidasi.
Apabila di rangkum pembayaran kas kepada masing-masing anggota akan

       3.4 KESIMPULAN
      1. akuntansi pembubaran firma dapat di terapkan dengan menggunakan 2 metode likuidasi yaitu (a). Metode likuidasi secara serentak , dan (b). Metode likuidasi secara berangsur atau bertahap . pada dasarnya tidak ada perbedaan pada hasil akhir likuidasi firma,baik menggunakan metode serantak maupun betahap. Kedua metode tersebut akan memberikan jumlah yang sama dalam pengembalian modal kepada masing-masing anggota .
                   2. penggunaan metode likuidasi yang di lakukan secara serentak dapat di laksanakan apabila realisasi aktiva non kas menjadi kas tidak memerlukan waktu yang lama dan aktiva non – kas dapat di pastikan akan laku di jual , sehingga pembayaran kas menunggu sampai terkunpulnya semua kas dari hasil realisasi.
       3. sedangkan penggunaan metode likuidasi dilakukan secara berangsur dapat dilaksanakan apabola di perkirakan realisasi aktiva non kas menjadi kas memerlukan waktu yang lama dan kemungkina aktiva non-kas dapat dijual atau di tagih sangat kecil sehingga pembayaran kas langsung di laksanaka pada setiap tahap realisasi .
            4. tata urutan dalam pembagian kas pada tahaplikuidasi firma adalah :
·         Menyelesaikan kewajiban – kewajiban firma kepada pihak luar (kreditur ekstrn) 
·         Menyelesaikan kewajiban-kewajiban firma kepada pihak dalam atau hutang pada anggota (kreditur intern)
·         Pembagian kas kepada para anggota yang rekeing modalnya bersaldo kredit .
Pelu di ketahui bahwa apabila ada salah satuatau beberapa anggota mempunyai rekeningmodal yang bersaldo debit (defisit) , maka anggota yang defisit tersebut harus menyetor kas kepada fima sejumlah defisit sehingga saldo modalnya nihil.
       5. likuidasi berangsur tanpa program kas tidak memerlukan adanya
  perencanaan prioritas pembayaran artinya tidak ada anggota yang di dahulukan dalam penermaan pengembalian modal sehingga apabila ada kas yang di terima dari hasil realisasiakan langsung di bagikan kepada para anggota secara bersama- sama sesuai dengan perbandingan pembagian lba rugi.
6. sedangkan untuk likuidasi berabgsur dengan program kas sudah
dapat diketahuilebih dahulu siapa anggota yang akan mendapatkan pembayaran pertamkali dan berapa jumlahnya. Hal ini dapat dilakukan karena sebelum realisasi dilakukan sudah di susun terlebih dahulu program kas yang memuat prioritas pembayaan kepada anggota beserta jumlah prioritas pembayarannya .setelah realisasi di lakukan kas akan langsung di bagikan kepada para anggota, sesuai urutan pioritas atau rangking pembayaran yang telah di buat sebelumnya.   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar