Daftar Blog Saya

Minggu, 22 Januari 2017

SEJARAH BERDIRINYA BAITUTTAMKIN LUMBUNG BERSAING












ABDUSSALAM

SEJARAH BERDIRINYA BAITUTTAMKIN LUMBUNG BERSAING

Baitut Tamkin merupakan metode pemberdayaan ekonomi masyarakat berbasis syariah yang mengadopsi sistem Grameen Bank yang dikembangkan oleh Prof. Dr. Mohammad Yunus di Bangladesh. Baitut Tamkin dikembangkan baru di dua provinsi yakni Jawa Barat tepatnya di Bogor dan di Provinsi NTB di 3 kabupaten di Lombok Barat, Lombok Timur dan Kabupaten Sumbawa Barat. Baitut Tamkin (BT) memiliki fungsi sebagai lembaga pemberdayaan juga sekaligus sebagai lembaga keuangan. Sebagai lembaga pemberdayaan BT terus berikhtiar membuat masyarakat berdaya dan memiliki kemandirian di segala bidang, tidak hanya ekonomi saja melainkan juga bidang yang lainnya seperti pendidikan, sosial, keagamaan, lingkungan dan sebagainya.
Baitut Tamkin Lumbung Bersaing ( BTLB ) adalah salah satu lembaga keuangan mikro syariah yang merupakan bagian dari keluarga besar Tazkia Group dibawah koordinasi Tazkia Micri Finance Center yang berdomisli di Sentul Jawa Barat. Bait berarti rumah, sedang Tamkin sendiri adalah kata yang berasal dari bahasa Arab dengan akar kata “makana”. Dalam Al-Qur’an surat. Al-Hajj ayat 41 yang bermakna menggunakan atau memberdayakan. Sehingga secara bahasa, Tamkin berarti yang di berdayakan. Sedangkan lumbung merupakan simbol yang didalamnya ada kebaikan, ada hasil, ada Produksi, komuditas dan hal-hal berupa kebaikan dan kata bersaing ini merupakan kata yang mengadopsi Dari provinsi NTB, beriman dan berdaya saing. Maka Lumbung bersaing adalah program yang di harapakan bisa memberdayakan masyarakat menjadi masyarakat yang baik, berahlak mulia, produktif dan bisa memenuhi kebutuhannya dengan sumberdaya yang ada padanya. Dan adapun pengertian  Baitut Tamkin Lumbung Bersaing secara sempurna adalah rumah pengelolaan harta dan tempat pemberdayaan ekonomi ummat untuk mencapai kebaikan dan kesejahteraan.
Awal sejarah adanya program BTLB di Nusa Tenggara Barat, berkaiatan dan diperankan langsung oleh Bapak Gubernur NTB Tuan Guru Bajang, dimana sekitar 4 tahun yang lalu. Beliau pernah Pergi jalan jalan ke Jawa barat tepatnya di kota Bogor, dan disana beliau melihat sekelompok ibu ibu sedang duduk sambil membaca asma-ul Husna dan menghitung uang serta kegiatan keuangan lainnya, yang dimana ibu-ibu tersebut merupakan anggota majlis dari Baituttamkin Tazkia Madani, karena awal Praktik operasional dari sistem Baituttamkin berada di Jawa Barat, sehingga dengan kejadian tersebut Bapak Gubernur ingin bertemu dengan pimpinan di Tazkia, yaitu Bapak Dr. Muhammad Syafi’i Antonio, M.EC., untuk melihat dan sekaligus mewawancara kegiatan dari Program yang di adakan oleh Baituttamkin, dimana program ini bertujuan untuk pengentasan kemiskinan/meminimalisir kemiskinan dan pemberdayaan ummat baik dari karakter maupun dari ekonomi dengan menggunakan pendekatan keuangan mikro dan orientasi program ini selaras dengan agenda prioritas provinsi NTB yaitu mengurangi tingkat kemiskinan.
Setelah Bapak Gubernur mengadakan pertemuan dan melihat secara langsung perkembangan dari hasil nyata dari program tersebut, maka beliau sangat tertarik dan meminta kepada Bapak Syafi’i agar program baituttamkin juga bisa di adakan di NTB dan Bapak Syafi’i menyetujuinya. Dengan Komando Bapak Syafi’i, dari yayasan Tazkia Micro Finance Center (TMFC) Bogor yang beralamat di Sentul City langsung datang ke NTB untuk awalnya melakukan perekrutan sumber daya pengelola yang akan langsung menjalankan program ini dan yang di rekrut adalah putra daerah NTB sendiri. Pada waktu itu yang mendaftar sekitar dua ratusan orang yang berasal dari Kabupaten Lombok Timur dan Kabupaten Sumbawa Barat karena sebagai Pilot Project di NTB dimulai dari dua kabupaten tersebut dan berikutnya kan di lanjuk ke kabupaten kabupaten lain di Nusa Tenggara Barat.
Kemudian dari dua ratusan orang tersebut, yang di ambil hanya dua puluh delapan orang untuk mengikuti pelatihan dasar di Selong selama sepuluh hari. Prosesnya belum selesai, dari dua puluh delapan orang yang mengikuti pelatihan, dilanjutkan seleksi lagi menjadi dua puluh orang kemudia mereka dibawa ke Bogor mengikuti pelatihan lanjutan sekaligus magang disana. Seperti inilah penggemblengan mulai dari perekrutan sumber daya pengelolanya, mereka di gembleng mental dan ibadahnya dan hasilnya yang dua puluh orang inilah yang sementara ini terbaik sebagai partner untuk mengelola dan menjalankan Program ini.
Pada akhirnya sekitar tahun 2011 program itu bisa beroprasi di NTB. Yakni pada awalnya BTLB ada di dua kabupaten di NTB, yaitu kabupaten Lombok Timur tepatnya berada di kecamatan Aikmel dan kabupaten Sumbawa Besar yang berada di kecamatan Taliwang. Saat itu di Lombok Timur mampu mendapatkan 695 orang yang menjadi anggota dan di KSB sebanyak 494 anggota. Selanjutya pada tahun 2012, BTLB kembali membuka cabang di kabupaten Lombok Barat yang tepatnya berada di kecamatan Kediri. Tahun 2013 BTLB unit Sumbawa Barat membuka kran Kerjasama dengan PT. Newmont Nusa Tenggara (NNT) melalui CSR nya mampu menambah 500 anggota baru. Pada tahun yang sama, atas komitmen pemda Lombok Timur, kecamatan wanasaba dibuka untuk menjalankan Program BTLB cabang Lotim memiliki sekitar 1.600 anggota.
Program ini bukan merupakan program yang asing melainkan program ini sudah ada di 124 negara dalam kurun waktu tidak kurang dari 36 tahun. Bahkan pada tahun 2006 lalu Prof. Muhammad Yunus dari Banglades, mendapatkan nobel perdamaian dunia dari badan PBB karena eksistensinya memotori program pembangunan ekonomi mikro syariah berbasis komunitas seperti apa yang akan di terapakan di BTLB. Dan program ini sudah memiliki 120 ribu binaan yang terbesar di 18 provinsi di Indonesia, mulai dari provinsi Aceh sampai provinsi Maluku. Dengan demikian program Baituttamkin setiap tahun semakin bertambah dan berkembang serta sangat diminati oleh setiap lapisan masyarakat bahkan setiap angota yang sudah ikut sebagai anggota berani berjanji sampai akhir hayatnya tidak akan berhenti untuk ikut sebagai anggota BTLB.





CATATAN PKL 2016

Oleh
ABDUSALAM
FAKULTAS SYARIAH
PRODI EKONOMI SYARIAH
INSTITUT AGAMA ISLAM HAMZANWADI NW PANCOR










Tidak ada komentar:

Posting Komentar